Ulakan Tapakis – Masyarakat Nagari Ulakan sudah turun-temurun membuat anyaman pandan berupa tikar atau lapiak untuk kebutuhan adat dan rumah tangga. Namun, produk ini dinilai kurang berkembang sehingga belum mampu meningkatkan ekonomi warga. Menjawab tantangan itu, perguruan tinggi bersama pemerintah nagari melaksanakan program pemberdayaan untuk mengembangkan desain produk, agar kerajinan anyaman bisa menembus pasar yang lebih luas.
Melalui pelatihan desain, pengrajin Ulakan kini tak hanya membuat tikar, tapi juga mengolah anyaman pandan menjadi produk tiga dimensi seperti tas, dompet, sandal, dan kotak tisu. Inovasi ini memberi sentuhan baru pada kerajinan lokal sehingga lebih menarik secara estetika dan bernilai ekonomi. Produk kreatif ini diharapkan mampu memperkuat identitas nagari sekaligus menjadi daya tarik wisata.

Tak banyak yang tahu, sebelum menjadi kerajinan cantik, daun pandan harus melewati proses panjang. Mulai dari pemilihan daun terbaik, pembuangan duri, pengeringan, pewarnaan, hingga diraut menjadi pita lentur. Pelatihan ini membuat pengrajin memahami standar pengolahan bahan sehingga produk yang dihasilkan lebih awet, rapi, dan diminati pasar.
Dalam pelatihan, warga Ulakan diajarkan mulai dari membuat desain di atas kertas, membuat pola, memotong bahan, hingga proses menjahit dan pemasangan aksesoris. Produk kemudian dihias dengan sulam pita dan dikemas dengan baik. Tahapan ini membuat pengrajin semakin terampil menghasilkan produk kreatif yang siap dipasarkan ke luar daerah.


Program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan desain produk anyaman pandan dinilai berhasil meningkatkan keterampilan dan motivasi warga. Produk yang dulu hanya berupa tikar kini hadir dalam berbagai bentuk inovatif yang bernilai tambah. Ke depan, kerajinan ini diharapkan menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Padang Pariaman dan membuka pasar lebih luas bagi masyarakat Ulakan


Sumber foto : Febri Yulika, Yulimarni, & Nofi Rahmanita, “Pemberdayaan Masyarakat Ulakan Tapakis melalui Pengembangan Desain Produk Anyaman Pandan,” Jurnal Batoboh, Vol. 2, No. 2, 2017, Institut Seni Indonesia Padang Panjang.’